<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title></title>
	<atom:link href="http://www.rayakultura.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.rayakultura.net</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 May 2012 09:29:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
<image>
<link>http://www.rayakultura.net</link>
<url>http://www.rayakultura.net/blog/wp-content/cbnet-favicon/favicon.png</url>
<title></title>
</image>
		<item>
		<title>DZIKIR JANTUNG FATIMAH: KETIKA ANAK LEBIH DEWASA DARI ORANG TUA</title>
		<link>http://www.rayakultura.net/dzikir-jantung-fatimah-ketika-anak-lebih-dewasa-dari-orang-tua/</link>
		<comments>http://www.rayakultura.net/dzikir-jantung-fatimah-ketika-anak-lebih-dewasa-dari-orang-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 09:15:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rayakultura.net/?p=1070</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Eunike Hanny Sejatinya, orang tua adalah tempat berlindung bagi anak-anaknya. Ketika dunia luar belum mampu dipahami oleh anak, maka menjadi tugas orang tua untuk memberi pemahaman dan perlindungan yang diperlukan sang anak. Namun, dalam beberapa kasus, terkadang kedewasaan tidak berhubungan dengan umur dan pengalaman, seperti yang terjadi pada Ayu dan ibunya, tokoh utama dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Eunike Hanny</p>
<p><a rel="attachment wp-att-1074" href="http://www.rayakultura.net/dzikir-jantung-fatimah-ketika-anak-lebih-dewasa-dari-orang-tua/eunike-hanny-pf/"><img class="alignleft size-full wp-image-1074" title="eunike-hanny-pf" src="http://www.rayakultura.net/blog/wp-content/uploads/2012/05/eunike-hanny-pf.jpg" alt="" width="150" height="170" /></a>Sejatinya, orang tua adalah tempat berlindung bagi anak-anaknya. Ketika dunia luar belum mampu dipahami oleh anak, maka menjadi tugas orang tua untuk memberi pemahaman dan perlindungan yang diperlukan sang anak. Namun, dalam beberapa kasus, terkadang kedewasaan tidak berhubungan dengan umur dan pengalaman, seperti yang terjadi pada Ayu dan ibunya, tokoh utama dalam novel Dzikir Jantung Fatimah karya Naning Pranoto.</p>
<p>Ayu adalah remaja lima belas tahun yang cerdas dan percaya diri. Meskipun kakinya cacat karena serangan polio ketika balita, namun dia sangat mandiri dan bahkan menoreh prestasi sebagai atlet pelajar. Semua itu tak lepas dari didikan ibunya, Lidya, yang terus menerus memberi semangat pada Ayu agar putrinya itu kelak memperoleh keberhasilan dalam hidupnya, mengikuti jejaknya.</p>
<p>Lidya sendiri cukup sukses dalam karirnya meskipun dia bukan lulusan universitas. Namun, keberhasilan itu membuatnya menjadi wanita dominan dan materialistis, dan memilih bercerai dari ayah Ayu yang hanya seorang seniman dengan penghasilan tak menentu. Dia pun menuntut hak asuh atas kedua anak mereka, Ayu dan abangnya.</p>
<p>Ketika krisis moneter melanda antara tahun 1998-1999, perusahaan tempat Lidya bekerja bangkrut. Beruntung Lidya masih mendapat pesangon yang cukup besar. Namun, ketika keinginan untuk hidup mewah tampaknya terkabul, rasionalitas tak lagi berjalan. Alih-alih menabung atau memulai usaha dengan uang pesangon tersebut, Lidya justru menggunakannya untuk membeli mobil mewah dan berfoya-foya. Peringatan Ayu dan abangnya untuk mencari pekerjaan baru diabaikan Lidya dengan alasan jabatan dan gaji tidak sesuai dengan pekerjaannya terdahulu.</p>
<p>Pengeluaran uang yang terus menerus tanpa dibarengi oleh pemasukan membuat Lidya bangkrut. Tanpa sepengetahuan Ayu dan abangnya, Lidya memanfaatkan internet bukan untuk mendapatkan pekerjaan, melainkan mencari cara agar mereka bisa tinggal di luar negeri. Dan, bagi Lidya, cara yang paling mudah adalah dengan menikahi pria dari negara asing.</p>
<p>Berbeda dari kebanyakan remaja belasan tahun yang senang berkelompok menghabiskan waktu bersama dan mencoba hal-hal baru, tidak demikian halnya dengan sosok Ayu dan abangnya dalam novel ini. Pemikiran mereka terlihat lebih dewasa bila dibandingkan dengan ketidakmampuan Lidya untuk mengambil berbagai keputusan yang menyangkut hidupnya dan keluarganya, dan puncaknya adalah keputusannya untuk menikahi Ernest Bronkost dan pindah ke Australia, tak peduli bahwa sesungguhnya sosok pria tersebut benar-benar tidak dikenalnya.</p>
<p>Ketakutan Ayu akan sosok suami baru ibunya terbukti ketika suatu hari Lidya pulang ke rumah dalam keadaan babak belur. Melalui ayah Chia, teman barunya di Dandenong, Australia, Ayu tahu bahwa Bronkost adalah seorang pria yang suka menyakiti pasangannya.</p>
<p>Dalam novel ini, menarik untuk mencermati bagaimana hubungan antara seorang ibu yang dominan dan materialistis dengan anak-anaknya, terutama dengan anak perempuannya, yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan berdoa dan menulis. Belasan puisi yang mengawali setiap bab menggambarkan bagaimana transformasi perasaan Ayu terhadap ibunya, dari rasa kecewa, marah, benci, kesepian, hingga jatuh kasihan dan akhirnya harapan akan kehidupan mereka di tanah yang baru. Puisi-puisi tersebut menjadi cara Ayu untuk mengadu kepada Tuhan.</p>
<p>Dan Tuhan pun menjawab dengan cara yang indah melalui persahabatan baru yang terjalin di antara Ayu dan Marco, seorang mantan narapidana, yang menemukan Tuhan di dalam penjara. (EH)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rayakultura.net/dzikir-jantung-fatimah-ketika-anak-lebih-dewasa-dari-orang-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Butir-butir Asmaul Husna di Negeri Kanguru</title>
		<link>http://www.rayakultura.net/butir-butir-asmaul-husna-di-negeri-kanguru/</link>
		<comments>http://www.rayakultura.net/butir-butir-asmaul-husna-di-negeri-kanguru/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 May 2012 06:21:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rayakultura.net/?p=1063</guid>
		<description><![CDATA[Penyair Zawawi Imron menggambarkan kemuliaan seorang ibu dengan amat memukau. Pria asal Madura itu dalam puisinya &#8220;Ibu&#8221; melukiskan, bila kasih ibu ibarat samudera, maka sempit lautan teduh. &#8220;Kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan, namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu,&#8221; demikian bait puisi si penyair si Celurit Emas itu. Ibu, dalam goresan Zawawi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-1065" href="http://www.rayakultura.net/butir-butir-asmaul-husna-di-negeri-kanguru/adafatimah-w300/"><img class="alignleft size-full wp-image-1065" title="adafatimah-w300" src="http://www.rayakultura.net/blog/wp-content/uploads/2012/05/adafatimah-w300.jpg" alt="" width="300" height="430" /></a>Penyair Zawawi Imron menggambarkan kemuliaan seorang ibu dengan amat memukau. Pria asal Madura itu dalam puisinya &#8220;Ibu&#8221; melukiskan, bila kasih ibu ibarat samudera, maka sempit lautan teduh.</p>
<p>&#8220;Kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan, namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu,&#8221; demikian bait puisi si penyair si Celurit Emas itu.</p>
<p>Ibu, dalam goresan Zawawi adalah sosok ideal seperti yang digambarkan dalam pelajaran-pelajaran moral dan tentu di dalam kitab-kitab suci.</p>
<p>Tidak demikian dengan Ayu, lengkapnya Sri Rahayu. Ia yang juga gemar menulis puisi ini tidak seberuntung anak yang mendapatkan ibu seperti gambaran dalam puisi Zawawi. Ayu justru mendapati ibunya jauh dari tempat sebagai pelepas dahaga jiwa di kala sang anak &#8220;haus&#8221;.</p>
<p>Maka, muncullah pertanyaan, &#8220;Ya Allah, izinkan hamba bertanya, apakah masih ada surga-Mu di telapak kaki seorang ibu yang menjual tubuhnya melalui internet untuk membeli kemewahan?&#8221;</p>
<p>Pertanyaan di atas berkecamuk di hati Ayu, saat pertama kali dibawa ibunya, Lidya Adiningsih, ke Dandenong, wilayah sejuk di Australia. Sebuah kota pegunungan yang bertabur bunga tulip karena merupakan tempat komunitas orang Belanda.</p>
<p>Ayu, gadis ranum yang baru lulus SMP dengan cacat kaki karena terserang polio, itu adalah tokoh utama novel &#8220;Dzikir Jantung Fatimah&#8221; karya Naning Pranoto.</p>
<p>Bungsu dari dua dari bersaudara itu telah menjadi korban ambisi sang ibu, Lidya Adiningsih. Sifat Lidya yang konsumtif dan selalu menempatkan diri pada maqom kelas atas telah membawa Ayu ke Australia. Lidya datang ke Negeri Kanguru karena ingin hidup bersama suami barunya, Ernest Brongkost, akrab dipanggil Ernie.</p>
<p>Lidya adalah perempuan karir dan memilih menjadi &#8220;single parent&#8221; yang kehilangan pegangan setelah perusahaan tempatnya bekerja bangkrut. Ia mendapat pesangon ratusan juta, namun habis untuk membeli mobil mewah. Belakangan mobil itu hangus dibakar massa saat digunakan oleh anak temannya.</p>
<p>Karena alasan tidak terpenuhinya keserakahan materi, Lidya memilih bercerai dengan ayah Ayu.</p>
<p>Ayu sebetulnya mengikuti ibu dengan terpaksa. Ia tidak setuju dengan sikap Lidya yang memilih suaminya hanya lewat perkenalan di jejaring sosial. Ia tidak ingin terlibat pertengkaran terlalu jauh dengan Lidya sehingga akhirnya mengalah ikut ke Australia.</p>
<p>&#8220;Bumi Kanguru adalah negeri lampu,&#8221; demikian Lidya menggambarkan negara suaminya itu kepada Ayu.</p>
<p>Lidya mengibaratkan Ayu sebagai kecambah yang masih bertumbuh. Tepatnya kecambah istimewa. Kecambah akan menjadi besar, rindang dan berbuah lebat jika ditanam di tanah subur. Begitu prinsipnya untuk membesarkan Ayu.</p>
<p>Negeri lampu, tanah subur untuk persemaian sang kecambah. Pada kenyataannya, Ayu belum juga menemukan semua harapan besar ibunya itu.</p>
<p>Apalagi sejak awal kedatangan, ia sudah mencium gelagat aneh. Ernie tidak menjemput istri dan anak tirinya dari bandara. Sampai beberapa hari, Ernie juga tidak menampakkan batang tubuhnya.</p>
<p>Sampai kemudian misteri itu terungkap. Lidya yang pamit keluar untuk beberapa hari hanya dengan surat, muncul di rumah dengan kondisi mengenaskan. Mata kirinya dibalut kain kasa tebal dan pipi kananya bengkak, hitam legam warnanya.</p>
<p>Belum terjawab kemana sang ibu menghilang, kini Lidya menghidangkan teka-teki baru bagi Ayu. Meskipun berkali-kali didesak, Lidya tak menjawab apa yang sesungguhnya dialami. Kenyataan sebenarnya terjawab setelah Ayu bertemu ayah dari Chia, sahabat barunya. Meskipun baru kenal, Ayu dan Chia sudah seperti sahabat lama.</p>
<p>Ayah Lidya bercerita bahwa Ernie adalah lelaki sinting yang suka menyakiti perempuan pasangannya. Ayu kini yakin bahwa ibunya adalah korban Ernie berikutnya.</p>
<p>Novel dengan alur cerita yang ringan ini banyak memberikan pelajaran tersirat dengan mengambil hikmah-hikmah dari asmaul husna atau 99 nama Allah. Hanya karena berpegang pada asmaul husna itu, Ayu menjadi kuat menghadapai berbagai kenyataan di negeri asing.</p>
<p>Nama-nama Allah, seperti Al Wali (yang Maha Melindungi) atau Al Wakil (yang Maha Memelihara) dan lainnya selalu menjadi cahaya yang menerangi Ayu di dalam kegundahan jiwanya. Maka, &#8220;hasta-hasta&#8221; Allah muncul lewat sejumlah tokoh seperti, Chia, Marco dan lainnya ketika Ayu dalam kesulitan.</p>
<p>Cerita ini berakhir dengan kegembiraan, meskipun tersamar karena Ayu lewat Marco bisa menemukan pekerjaan paruh waktu sebagai perancang busana dan memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi di sebuah pesantren. Ya, pesantren di negeri kaum Aborigin.</p>
<p>Yang tak kalah menggembirakannya adalah, Ayu mendapati ibunya juga menemukan butir-butir hikmah dari asmaul husna di Negeri Kanguru. Lidya kemudian tertarik untuk bertemu dengan Marco, lelaki keturunan campuran ibu Negro dan ayah Prancis, yang banyak membimbing Ayu.</p>
<p>Hal yang tidak diceritakan dalam novel ini, namun memberikan pelajaran bermakna adalah jawaban dari pertanyaan Ayu, &#8220;masih adakah surga di telapak kaki ibunya?&#8221; Ternyata surga itu tetap ada.</p>
<p>Naning Pranoto yang menyelesaikan S-2 di Australia dan telah banyak menghasilkan novel serta buku-buku panduan menulis kreatif itu manjawabnya lewat ending cerita. Seperti apapun perilaku ibu, tetap ada surga di kakinya buat si anak. Surga itu diwujudkan dengan hadirnya Marco dan penolong lainnya. Pertemuan Ayu dengan mereka adalah bagian dan asa dan &#8220;doa-doa&#8221; dari Lidya untuk Ayu.</p>
<p>Bukankah hadist Nabi Muhammad itu hanya berbunyi, &#8220;Surga itu berada di telapak kaki ibu?&#8221; Nabi tidak bersabda,&#8221;Surga itu berada di bawah telapak kaki ibu yang baik-</p>
<p>baik.&#8221;</p>
<p>Sumber : Antara Jatim</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rayakultura.net/butir-butir-asmaul-husna-di-negeri-kanguru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dua buah Buku Pelipur Lara dan Sumber Inspirasi Berkarya</title>
		<link>http://www.rayakultura.net/dua-buah-buku-pelipur-lara-dan-sumber-inspirasi-berkarya/</link>
		<comments>http://www.rayakultura.net/dua-buah-buku-pelipur-lara-dan-sumber-inspirasi-berkarya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2012 10:41:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Baru]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rayakultura.net/?p=1056</guid>
		<description><![CDATA[Dapatkan 2 (dua) buah buku pelipur lara dan sumber inspirasi berkarya: Novel DZIKIR JANTUNG FATIMAH karya Naning Pranoto Sumber Inspirasi KIAT MENULIS FIKSI: 50 HARI JADI PENULIS BESAR karya Sides Sudyarto DS Harga 2 (dua) buku Rp 75.000- wilayah Jabodetabek; Rp 80.000,- wilayah P. Jawa minus Jabodetabek; Rp 85.000,- untuk P. Sumatera dan Bali; Rp [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-1057" href="http://www.rayakultura.net/dua-buah-buku-pelipur-lara-dan-sumber-inspirasi-berkarya/2buku/"><img class="aligncenter size-full wp-image-1057" title="2buku" src="http://www.rayakultura.net/blog/wp-content/uploads/2012/05/2buku.jpg" alt="" width="477" height="350" /></a>Dapatkan 2 (dua) buah buku pelipur lara dan sumber inspirasi berkarya:<br />
Novel DZIKIR JANTUNG FATIMAH karya Naning Pranoto<br />
Sumber Inspirasi KIAT MENULIS FIKSI: 50 HARI JADI PENULIS BESAR karya Sides Sudyarto DS<br />
Harga 2 (dua) buku Rp 75.000- wilayah Jabodetabek; Rp 80.000,- wilayah P. Jawa minus Jabodetabek; Rp 85.000,- untuk P. Sumatera dan Bali; Rp 90.000,- wilayah Sulawesi dan Kalimantan termasuk ongkos kirim.<br />
Pesan &#8211; tulis nama lengkap, alamat dan No.HP lalu melalui e-mail: rayakultura@gmail.com<br />
Terima kasih dan Salam Kreatif</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rayakultura.net/dua-buah-buku-pelipur-lara-dan-sumber-inspirasi-berkarya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LMCR ROHTO-MENTHOLATUM GOLDEN AWARD DIHENTIKAN</title>
		<link>http://www.rayakultura.net/lmcr-rohto-mentholatum-golden-award-dihentikan/</link>
		<comments>http://www.rayakultura.net/lmcr-rohto-mentholatum-golden-award-dihentikan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Mar 2012 09:37:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rayakultura.net/?p=1054</guid>
		<description><![CDATA[Halo&#8230;semua sahabat di FB dan di mana pun berada. Melalui pengumuman kecil ini kami sampaikan bahwa LMCR ROHTO MENTHOLATUM GOLDEN AWARD dihentikan oleh PT ROHTO Laboratories Indonesia. Pengumuman ini juga sekaligus untuk menjawab hampir seribu pertanyaan dari lembaga pendidikan maupun person: tentang pelaksanaan LMCR via e-mail Rayakultura. Terima kasih kami haturkan kepada Anda semua yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> Halo&#8230;semua sahabat di FB dan di mana pun berada.</p>
<p>Melalui pengumuman kecil ini kami sampaikan bahwa LMCR ROHTO MENTHOLATUM GOLDEN AWARD dihentikan oleh PT ROHTO Laboratories Indonesia. Pengumuman ini juga sekaligus untuk menjawab hampir seribu pertanyaan dari lembaga pendidikan maupun person: tentang pelaksanaan LMCR via e-mail Rayakultura.</p>
<p>Terima kasih kami haturkan kepada Anda semua yang mencintai LMCR&#8230;dan menyatakan sudah menulis cerpen untuk ikut lomba LMCR tahun ini.</p>
<p>Dengan setulus hati, kami teguhkan pada Anda semua &#8211; bahwa ada jalan lain untuk berkreasi dan berkespresi selain melalui LMCR.<br />
Bentangan kertas putihNya tetap akan terbuka menampung karya emas Anda semua sesuai dengan ridhoNya, tepat pada waktunya. </p>
<p>Kepada adik-adik yang telah membeli produk ROHTO &#8211; dan menyimpan kemasannya, bisa ditukar dengan Antologi LMCR-2012 dengan syarat 3 (tiga) kemasan. Isi Antologi LMCR-2012 sangat bagus untuk belajar menulis karya fiksi literer. Tapi maaf, persediaan sangat terbatas.</p>
<p>Mohon doa restu, kami &#8211; Rayakultura terus berusaha menciptakan peluang dan mencari mitranyang sepaham-semisi, agar bisa mengantar siapa saja untuk meneguhkan dan mengembangkan eksistensi Sastra Indonesia serta bimbingan kemampuan menulis didasari Creative Writing Program.</p>
<p>Salam hormat,<br />
Naning Pranoto &#8211; Ketua Rayakultura</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rayakultura.net/lmcr-rohto-mentholatum-golden-award-dihentikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penipuan Mengatasnamakan Rayakultura</title>
		<link>http://www.rayakultura.net/penipuan-mengatasnamakan-rayakultura/</link>
		<comments>http://www.rayakultura.net/penipuan-mengatasnamakan-rayakultura/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 14:03:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rayakultura.net/?p=1044</guid>
		<description><![CDATA[Pernyataan PERNYATAAN Pernyataan: LMCR-2012 BELUM DIBUKA yang ada di FB LOMBA MENULIS CERPEN REMAJA adalah penipuan dengan uang pendaftaran melalui BNI atas nama FITRI JAYANTI Melalui FB ini saya NANING PRANOTO menyatakan bahwa LMCR-2012 ROHTO GOLDEN AWARD belum dibuka. ADALAH PENIPUAN DAN MENODAI SASTRA INDONESIA PIHAK YANG MENGGUNAKAN FB: http://www.facebook.com/pages/Lomba-Menulis-Cerpen-Remaja-2012/176933835739391 menyalahgunakan nama NANING PRANOTO dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernyataan    PERNYATAAN   Pernyataan: LMCR-2012 BELUM DIBUKA yang ada di FB LOMBA  MENULIS CERPEN REMAJA adalah penipuan dengan uang pendaftaran melalui  BNI atas nama FITRI JAYANTI</p>
<p>Melalui FB ini saya NANING PRANOTO  menyatakan bahwa LMCR-2012 ROHTO GOLDEN AWARD belum dibuka. ADALAH  PENIPUAN DAN MENODAI SASTRA INDONESIA PIHAK YANG MENGGUNAKAN FB: <a rel="nofollow" href="http://www.facebook.com/pages/Lomba-Menulis-Cerpen-Remaja-2012/176933835739391" target="_blank">http://www.facebook.com/pages/Lomba-Menulis-Cerpen-Remaja-2012/176933835739391</a> menyalahgunakan nama NANING PRANOTO dan PT ROHTO LABORATORIES  INDONESIA. Harap TIDAK DITANGGAPI JIKA ANDA TIDAK MAU TERTIPU UANG  PENDAFTARAN DAN PENODAAN SASTRA INDONESIA.  Terima kasih dan salam  hormat. Jaya Sastra  Indonesi</p>
<p>Halaman Facebook yang melakukan penipuan:</p>
<p><a href="https://www.facebook.com/pages/Lomba-Menulis-Cerpen-Remaja-2012/176933835739391">https://www.facebook.com/pages/Lomba-Menulis-Cerpen-Remaja-2012/176933835739391</a></p>
<div id="attachment_1048" class="wp-caption aligncenter" style="width: 585px"><a rel="attachment wp-att-1048" href="http://www.rayakultura.net/penipuan-mengatasnamakan-rayakultura/pmr01/"><img class="size-full wp-image-1048" title="pmr01" src="http://www.rayakultura.net/blog/wp-content/uploads/2012/02/pmr01.jpg" alt="" width="575" height="542" /></a><p class="wp-caption-text">Penipuan Mengatasnamakan Rayakultura</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rayakultura.net/penipuan-mengatasnamakan-rayakultura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>THE DANCING LEADER; IDEALISME KAUM IDEALIS</title>
		<link>http://www.rayakultura.net/the-dancing-leader-idealisme-kaum-idealis/</link>
		<comments>http://www.rayakultura.net/the-dancing-leader-idealisme-kaum-idealis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jan 2012 06:42:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Review]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rayakultura.net/?p=1033</guid>
		<description><![CDATA[Judul Buku: THE DANCING LEADER Editor: JUSUF SUTANTO Tebal: XIVII + 784 Halaman. Penerbit: PENERBIT BUKU KOMPAS Tentu bukan suatu peristiwa yang kebetulan saja, jika 46 orang pakar dalam bidangnya masing-masing menulis bersama-sama dalam satu buku yang sangat tebal ini. Pastilah terencana, sehingga juga terarah ke mana tujuannya. Tidak alang kepalang buku ini memuat sambutan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p lang="id-ID"><strong>Judul Buku: </strong><strong> </strong><em><strong>THE DANCING LEADER<a rel="attachment wp-att-1036" href="http://www.rayakultura.net/the-dancing-leader-idealisme-kaum-idealis/thedancingleader-w300/"><img class="size-medium wp-image-1036 alignleft" title="thedancingleader-w300" src="http://www.rayakultura.net/blog/wp-content/uploads/2012/01/thedancingleader-w300-181x300.jpg" alt="" width="181" height="300" /></a><br />
</strong></em></p>
<p><strong>Editor</strong><strong>: JUSUF SUTANTO</strong></p>
<p><strong>Tebal</strong><strong>: XIVII + 784 </strong><strong>Halaman</strong><strong>.</strong></p>
<p><strong>Penerbit</strong><strong>: PENERBIT BUKU KOMPAS</strong></p>
<p>Tentu bukan suatu peristiwa yang kebetulan saja, jika 46 orang pakar dalam bidangnya masing-masing menulis bersama-sama dalam satu buku yang sangat tebal ini. Pastilah terencana, sehingga juga terarah ke mana tujuannya. Tidak alang kepalang buku ini memuat sambutan banyak rektor universitas: Rektor Universitas Pancasila, Universitas Indonesia, Univesitas Islam Negeri Sjarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Kristen Satyawacana, dan Universitas Sanata Dharma.</p>
<p>Banyak tulisan yang merupakan percikan pemikiran yang menarik dan penting bagi masyarakat luas, utamanya menyangkut kehidupan berbangsa dan bernegara. Setelah sambutan dari lima rektor dari lima universitas,buku ini diawali dengan buah pikiran Rocky Gerung, seorang pengajar filsafat di Universitas Indonesia (UI). Di bawah judul <em>Memimpin Peradaban</em> Rocky langsung mengingatkan kita semua, bahwa tanggungjawab adalah inti kepemimpinan. “Ini adalah kearifan tua yang kini menjadi isu kontemporer ketika dunia mengalami situasi katastrofi multidimensi.”</p>
<p>Lebih jauh lagi Rocky Gerung berbicara tentang kecemasan umat manusia saat ini. “Kecemasan terhadap daya dukung Bumi, disparitas ekonomi antarnegara, konflik ideologi, persaingan nuklir, semuanya telah menghadapkan dunia pada suatu pertanyaan final: bagaimana peradaban harus dikelola agar kita dapat berbagi oksigen, bergantian memakai energi, dan bergandengan tangan membersihkan Bumi?” Dalam kaitan ini Gerung juga menulis, bahwa konsep kepemimpinan telah bergeser dari prinsip <em>leadership</em> menjadi prinsip <em>partnership</em>. Sejauh ini ia masih berwacana tentang manajemen, khususnya masalah <em>leadership</em>. Tetapi masuk jauh dalam tulisannya ia berbicara masalah <em>nation state</em> (Negara Bangsa), ketika ia menyinggung masalah kepemimpinan dalam bidang politik, sebagai suatu misal.</p>
<p>Ia berpikir, agar “nation state” tidak lagi ditafsirkan secara territorial, sekuriti, dan ekonomistik, tetapi mencair ke dalam berbagai wacana etis untuk memungkinkan kemanusiaan diunggulkan mendahului konstitusi-konstitusi politik. Menurut Gerung, konsep konvensional “nation state”, yang selalu identik dengan hirarki kepemimpinan politik, akan makin tidak relevan menghadapi operasi kebudayaan humanitarian yang dipimpin oleh ide partnership dan ko-operasi global. Di sini diperlukan kejelasan dan penjelasan, apakah hal itu merupakan harapan ataukah ramalan yang sangat diharapkan untuk bisa terjadi.</p>
<p>Tidak mustahil, bahwa penampikan terhadap <em>nation-state</em> itu berkaitan dengan gagasan satu dunia tanpa Negara, tanpa pemerintahan, meskipun belum tentu menjurus kepada gagasan anarkime dalam arti sesungguhnya. Masalah ini juga perlu dipertanyakan adakah hubungannya dengan anggapan, bahwa Negara adalah lapisan tanah yang cocok untuk memfosilkan, nilai, makna dan kebenaran.  Bagi seorang seperti Nietzsche, seniman, filsuf dan santo adalah orang-orang yang paling berbudaya. Semakin orang mempunyai jiwa seniman, filsuf, dan santo, semakin orang enggan hidup bernegara. Begitu ujar Friedric Nietzsche, sepeti dikutip ST. Sunardi, dalam bukunya, yang berjudul <em>Nietzsche</em>.</p>
<p>Menarik juga untuk disimak percikan permenungan Arnold Sutrisnanto, di bawah tajuk <em>Energi: Menyongsong Masa Depan</em>. Dia adalah pemikir konservatif, dalam arti setia percaya bahwa alam semesta ini tercipta melalui kejadian awal yang disebut <em>Big Bang</em>. Tentu tidak masalah. Sebab landasan ilmiahnya memang kuat. Dalam arti, belum tergoyahkan sampai hari ini. Persoalannya timbul, ketika manusia berbicara soal nasib. Geografi, adalah nasib, kata orang. Ditarik lebih luas, tentu, dunia adalah nasib. Jelasnya, ada bangsa yang ditakdirkan menduduki daratan subur, ada yang tandus, ada yang kaya minyak banyak yang miskin minyak.</p>
<p>Manusia tidak akan terpisahkan dari masalah energi. Mulai dari energi fosil, hingga energi yang terbarukan. Kenyataannya, makin besar potensi industri suatu Negara, makin besar kebutuhannya akan minyak dan gas bumi. Negara-negara dikuasa itulah yang senantiasa mengusai semaksimal sumber-sumber minyak bumi dan bahan bakar lainnya. Untuk itu tidak segan-segan negara adikuasa melakukan invasi secara terang-terangan tehadap negara lainnya, yang kebetulan kaya dengan tambang minyak.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan listrik sebagai energi sekunder bagi masyarakat seperti Indonesia sekarang ini? Masa depan perlistrikan juga tidak terlalu cerah. Pada tahun 2050, penduduk Indonesia akan mencapai 340 juta jiwa. Untuk itu rasio kelistrikannya baru mencapai 65 persen. Itu terlalu rendah menurut hitungan Arnold Soetrisnanto. Maka mau tidak mau sejak sekarang kita harus berpikir serius kemungkinan memanfaatkan energi nuklir.</p>
<p>“Energi nuklir sebenarnya bisa mendampingi energi fosil di masa depan, tetapi permasalahan politik dan social menjadi pengganjal utama, mengingat adanya fungsi lain daari energi nuklir. Yaitu dapat dikembangkana sebagai senjata musnah massal, atau bom nuklir,” papar Arnold. Selain itu, masih ada masalah lain. Yakni: Ketakutan umat manusia terhadap radiasi akibat kecelakaan pembangkit tenaga nuklir menjadi semakin menguat. Ketakutan itu, ini sangat berlebihan, katanya. Arnold Soetrisnanto, termasuk orang yang optimistis, bahwa kita punya teknolog dan teknologi yang mampu mengatasi berbagai masalah yang mungkin terjadi.</p>
<p>Dr. Ir. Lies Wijayanti, menurunkan bahasan mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi, di bawah judul <em>Merajut Cita Kemandiriasn Iptek Nasiona</em><em>l</em>. Judulnya itu saja, sudah memancing pikiran kritis untuk melancarkan berbagai pertanyaan: Mungkinkah Negara atau masyarakat yang masih berbau agraris dan pendatang baru dalam era teknologi modern bisa mampu mandiri? Bukankah teknologi yang sangat diperlukan umat manusia itu justru merupakan kepentingan bersama umat manusia dank arena itu selalu diperlukan kerjasama teknologi di dunia ini?</p>
<div id="attachment_1041" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a rel="attachment wp-att-1041" href="http://www.rayakultura.net/the-dancing-leader-idealisme-kaum-idealis/drirlieswijayanti-w150/"><img class="size-full wp-image-1041" title="drirlieswijayanti-w150" src="http://www.rayakultura.net/blog/wp-content/uploads/2012/01/drirlieswijayanti-w150.jpg" alt="" width="150" height="227" /></a><p class="wp-caption-text">Dr. Ir. Lies Wijayanti</p></div>
<p>Dr. Lies mengawali pikirannya dengan memanfaatkan inspirasi dari Bapak Bangsa. Ir. Soekarmo. Dalam amanatnya kepada rakyat Indonesiqa, Bung Karno menandaskan, tanpa budaya ilmu pengetahuan dan teknologi, kita akan menjadi bangsa kuli, atau kuli di anatara bangsa-bangsa. Kemudian beliua pun mengingatkan, bahwa di hadapan kita ada dua pilihan dengan risiko dan konsekuensinya masing-masing.Pilihan pertama,menjadi bangsa pengimpor teknologi dan bergantung sepenuhnya secara teknologis kepada bangsa lain Pilihan kedua, memperkuat ipteknas dengan secara aktif melibatkan partisipasi industri nasional. Konsekuensi pilihan pertama ialah, bangsa kita memperoleh nilai tambah yang kecil, dengan pertumbuhan ekonomi dan peneyerapa tenaga kerja yang tidak optimal. Konsekuensi pilihan kedua ialah, keharusan kita bekerja keras, tetapi kita akan mencapai posisi kemandirian ipteknas.Pertanyaannya, apakah kemandirian ipteknas bisa dicapai secara maksimal, mengingat pengalaman dalam kemandirian ekonomi nasional?</p>
<p>Agak mencengangkan adalah tulisan Prof. Azyumardi Azra. Mantan Rektur UIN Jakarta. Ia menurunkan tulisannya tentang Pancasila, di saat-saat makin banyak orang yang menganggap falsafah negara itu telah usang atau basi. Ia tetap pada pendiriannya bahwa  bahwa tidak ada yang salah dengan Pancasila. Ia tetap yakin tentang urgensi Pancasila sebagai salah satu factor pemersatu. Azra juga mencatat, memang ada beberapa kejadian yang membuat Pancasila tercemar. Pertama, Pancasila tercemar karena kebijakan rezim Soeharto yang menjadikan Pancasila sebagai alat ploitik untuk mempertahankan <em>status quo</em> kekuasaanya.</p>
<p>Kedua, liberalisasi politik dengan penghapusan ketentuan oleh Presiden Habibie tentang Pancasila sebagai satu-satunya asas (asas tunggal) setiap organisasi. Ketiga desentralisasi dan otonomisasi daerah yang sedikit banyak mendorong penguatan sntimen kedaerahan, yang jika tidak diantisipasi bukan tidak bisa menumbuhkan sentiment <em>local-nationalism</em> yang dapat tumpang tindih dengan <em>ethno-nationalism</em></p>
<p>Masih banyak memang tulisan lain yang penting dan menarik dan mayoritas tentang kepemimpinan. Lalu apa sesungguhnya tujuan pokok penerbitan yang begitu beragam memberikan informasi yang menyangkut multisegi kehidupan bangsa ini? Jawabnya tersurat dalam sambutan Rektor Universitas Pancasila, Dr. Edie Toet Hendratno, SH, M.Si.:Buku <em>The Dancing Leader</em> ini dimaksudkan untuk mengajak Perguruan Tinggi bersama-sama menjadi Pusat Peradaban.Kami sangat berterima kasih pada semua pakar yang telah dengan kikhlas menyumbangkan pemikirannya.”</p>
<p>(<strong>Dra. Naning Pranoto, MA</strong>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rayakultura.net/the-dancing-leader-idealisme-kaum-idealis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ranting Bergoyang</title>
		<link>http://www.rayakultura.net/ranting-bergoyang/</link>
		<comments>http://www.rayakultura.net/ranting-bergoyang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jan 2012 23:55:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen Kita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rayakultura.net/?p=1030</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Naning Pranoto Kita maksudku, aku dan kau, kini berada di dua titik berbeda: jauh dan makin jauh. Kita adalah dua orang asing. Itu menurutku. Sejak? Ya, sejak kau berubah. Mula-mula, kau ubah namamu. Berikutnya, kau ubah tata rambutmu yang semula lurus hitam sepanjang punggungmu, dipangkas jadi sejengkal berwarna merah wortel bergaya paku menantang langit. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Naning Pranoto</p>
<p>Kita maksudku, aku dan kau, kini berada di dua titik berbeda: jauh dan makin jauh. Kita adalah dua orang asing. Itu menurutku. Sejak? Ya, sejak kau berubah. Mula-mula, kau ubah namamu. Berikutnya, kau ubah tata rambutmu yang semula lurus hitam sepanjang punggungmu, dipangkas jadi sejengkal berwarna merah wortel bergaya paku menantang langit. Hidungmu juga meruncing setelah kau kembali dari Singapura.</p>
<p>Buah dadamu yang dulu berukuran normal, kini bak semangka kembar yang nyaris mecothot, bergantung di atas pinggang lebah. Kudengar, kau melakukan sedot lemak, untuk melangsingkan perut. Wajahmu yang bulat telur lenyap sudah, kau ganti dengan wajah berdagu daun semanggi warnanya seputih topeng penari noh dari Jepang. Begitu juga kulitmu, putih, hingga aku tak mengenalinya. Kukira, engkau mayat yang bangkit dari kubur seperti tokoh hantu perempuan dalam film honor: berbibir merah darah, mata berlingkar hitam dan ujung alisnya mencuat ke atas.</p>
<p>Sungguh, aku hanya berani memandangimu sejenak. Itulah sebabnya, mengapa aku tak mau lagi tidur denganmu. Juga, kedua anak kita menjauhimu. Selain mereka takut melihatmu, mereka berkata padaku, malu punya ibu bersosok seperti dirimu yang sekarang ini. Maka tak heranlah, mereka keluar dari rumah kita dan kini tinggal di asrama sekolah mereka. Kau tak tahu itu, karena kau sibuk, sibuk dan sibuk dengan jadual pentasmu di panggung melantunkan lagu-lagu yang membuatmu dielu-elu: ratu goyang pendendang lagu mendayu-dayu. Tapi, kau bagiku, juga bagi kedua anak kita yang lahir dari rahimmu, tidaklah beranganggapan begitu.</p>
<p>Sejujurnya, aku rindu kau, kau yang dulu. Kau yang kujumpai pertama kali di kebun teh di kaki bukit itu. Rambutmu yang panjang dikepang dua, ujung-ujungnya menjurai lebat di lingkar caping lebar penutup kepalamu. Sepasang bola matamu yang bundar-hitam membelalak ketika lensa kameraku membidikmu.</p>
<p>Saat itu, kau tengah asyik memetik pucuk-pucuk daun teh berwarna hijau lumut. Sedangkan aku, ke kebun teh untuk mencari obyek, kujadikan foto yang akan kulombakan bertema Gadis Desa. Jamilah, putri Pak Lurah, teman kuliahku, mengantarku mencari obyek yang kuinginkan. Dan, aku menemukanmu.</p>
<p>&#8220;Mas, jangan potret saya,&#8221; tolakmu, bersuara lirih dan tersipu-sipu. Kau menghindar dari bidikan lensaku. Pipimu pun memerah, lalu kau tutupi dengan kedua tanganmu. &#8220;Maaf, Rah, permisi mau ya kowe difoto?&#8221; respon Jamilah sigap, menghampirimu dan menyelipkan selembar uang. &#8220;Buat tambah nebus rapotmu.&#8221; Bisiknya kemudian. &#8220;Ayo to, cepet berpose!&#8221; Jamilah menarik-narik tanganmu dan memalingkan wajahnya ke arah lensa kameraku. &#8220;Senyum Rah, senyum!&#8221; teriak Jamilah, bergaya sutradara Kau pun tersenyum, walau tipis.</p>
<p>Tak mengapa. Ceckkk&#8230;ckkk&#8230;ternyata kau tidak hanya tampak ayu di lingkar lensaku, tapi juga artistik. Sungguh, aku tak menyangka, menemukan obyek sangat indah, lebih indah dari apa yang kubayangkan dan apa yang diceritakan Jamilah padaku yang mengatakan, &#8220;Gadis-gadis di desaku ayu-ayu. Mereka pemetik teh.&#8221;</p>
<p>Ayu? Cantik? Sulit bagiku mendifisikannya. Teman-teman di kampusku banyak yang mengatakan, Jamilah itu cantik dan banyak yang naksir. Kuamati, kulit Jamilah kuning langsat dan bertubuh langsing. Mungkin ini yang membuatnya layak disebut cantik. Tapi, bagiku kedua faktor itu hal biasa. Karena, ibuku bersosok lebih dari itu. Selain berkulit kuning langsat, langsing, rambut ibuku panjang ikal, berhidung mancung dan bibirnya bak kelopak mawar. Kakak perempuanku tak jauh berbeda dengan sosok ibuku. Bahkan ia bertubuh sintal karena rajin senam dan berenang. Kau, kau waktu itu bagiku lebih ayu dari Jamilah, ibuku dan kakak perempuanku. Tapi, yang membuatku jatuh cinta padamu bukan fisikmu, melainkan spiritmu. &#8220;Rah itu bocah pinter!&#8221; komentar Jamilah, sehabis aku memotretmu. Waktu kami menuju ke rumah Jamilah dan kau melanjutkan pekerjaanmu, memetik pucuk-pucuk daun teh. &#8220;Pinter apa makudmu?&#8221; tanyaku pada Jamilah. &#8220;Anak pandai&#8230;nilainya selalu bagus, jadi juara di sekolahnya. Sayangnya, orangtuanya tidak mampu membiayainya. Adiknya sembilan.&#8221; Tegas Jamilah. &#8220;Adiknya sembilan?&#8221; aku melongo, &#8220;Dia anak ke berapa?&#8221; sambungku. &#8220;Anak sulung,&#8221; bibir Jamilah berkerut, &#8220;Kasihan dia. Makanya tadi saya kasih uang, biar bisa nebus rapotnya.&#8221; &#8220;Dia kelas berapa di SMP atau SMA?&#8221; aku sangat ingin tahu tentangmu.</p>
<p>&#8220;SMP? SMA? Ahaaaa&#8230;masih SD. Baru kelas enam, mau ujian&#8230;. Dia sekolah karena keinginannya yang kuat untuk jadi gadis pandai. Ya, seharusnya dia sudah SMA.&#8221; &#8220;Ohhh..,&#8221; tiba-tiba mulutku terasa pahit mendengar penjelasan Jamilah tentang kondisi hidupmu, &#8220;Siapa nama lengkap gadis itu?&#8221; perasaan tergetar, merasa iba dan sekaligus mengagumi. Dan, aku ingin bisa berbuat sesuatu untukmu.</p>
<p>&#8220;Rah? Ponirah. Ponirah!&#8221; Jamilah mengeja namamu dan langsung terpatri dalam kalbuku. Sejak itu sosok dan spiritmu memukim jiwaku, yang membuatku ingin senantiasa dekat denganmu. Maka, ketika aku memenangkan lomba foto yang menjadikan sosokmu sebagai obyek, seluruh hadiahnya keberikan padamu, untuk membiayai ujianmu tingkat SD. Kau tahu, Jamilah cemburu. Sejak itu ia membenciku. Kebenciannya semakin menjadi-jadi ketika aku membantumu melanjutkan studimu di kotaku. Ia pun lalu memutuskan hubungan denganku, ketika ia tahu kau bekerja part time di toko elektronik kakakku. Selain rajin membersihkan toko, kau bisa jadi pramuniaga yang ramah dan luwes dalam melayani pembeli, kakak perempuanku pun jadi jatuh sayang padamu. Juga ibuku. Maka mereka tidak keberatan ketika aku menyatakan ingin mempersuntingmu, setelah kau lulus SMP.</p>
<p>* * *</p>
<p>Usiamu memasuki 21 tahun ketika kunikahi. Aku sudah sarjana dan jadi wartawan foto di sebuah harian Ibukota. Kuboyong kau tinggal di Jakarta, menempati rumah kontrakan rumah petak milik orang Betawi. Kita isi bulan madu dengan paduan kehangatan cinta di atas tikar, berbantal sarungku. Itu, karena aku menolak bantuan uang dari ibuku. Aku ingin seperti almarhum ayahku, memancangkan fondasi rumah-tangganya dengan butir-butir tetesan keringatnya sendiri. Kata ayahku, itu yang membuat tali cintanya dengan ibuku begitu indah dan erat, tiang rumah-tangganya kuat dan melahirkan anak-anak sehat dan hebat. Aku ingin seperti ayah dan bisa! Kutabung sebagian uang gajiku untuk membeli sebidang tanah dan akan kubangun rumah mungil di atasnya, itulah cita-citaku jangka pendek setelah menikahimu. Ibuku wanti-wanti, agar aku punya dua anak saja. Kau setuju, karena merasakan betapa sulitnya hidup dengan banyak anak. Maka, ketika anak pertama kita lahir, aku selalu memenggal alur kenikmatan dalam bercinta denganmu, agar air maniku tak membuahi indung telurmu. Ini cara berKB alami, agar kau tak usah pasang spiral atau menelan pil anti hamil yang kuyakani akan merusak tubuhmu. Selain aku kasihan padamu, aku tak mau kehilangan sulur-sulur kenikmatan sari ragamu peneguh cinta kita. Aku ingin selalu bercinta denganmu dalam gelora, yang menjadi penyemangat hidup. Hidup, hidup dan hidup. Kita terus tumbuh dan hidup.</p>
<p>Karirku menanjak. Memang, aku sering tugas keluar kota. Tapi, aku bisa memenuhi apa yang membuatmu senang sebagai perempuan layak: bergaun modis dilengkapi asesoris, dompet tidak kosong dan tak lagi tinggal di rumah petak kita telah punya rumah dan kau banyak teman. Sehingga kau tak kesepian ketika aku berada di luar kota. Ketika aku pulang, kau sambut dengan pelukan hangat obat mujarab pengusir jenuh dan penat. Celoleh anak kita, membuatku bangga dan merasa jadi lelaki paling perkasa di dunia. Aku selalu mengatakan pada ibuku, bahwa aku bahagia karena punya kau istri yang sangat istimewa. Inilah yang membuat ibuku tersenyum panjang dan ia begitu ringan ketika Gusti Allah memanggilnya. Ayah tiada, ibu tiada, kakak perempuan dan suaminya yang menggantikannya sebagai orangtuaku, juga orangtuamu. Mereka sayang dan selalu membanggakan kita berdua. Kau dan aku sungguh layak jika disebut keluarga bahagia. Di tengah kebahagiaan yang ada, pada suatu malam, kutumpahkan seluruh gelora cintaku padamu, hingga aku dan kau melayang sampai langit ke tujuh menebar benih.</p>
<p>Tiga puluh tujuh minggu kemudian kau hadirkan bayi berparas tampan. Lengkap sudah harapan ibuku, kita punya dua anak. Keduanya laki-laki. Aku bangga, aku bahagia&#8230;aku merasa hidupku tak sia-sia. Aku merasa kau dan aku serta kedua anak kita adalah pohon dan ranting. Kau sebut aku pohon, kau dan anak-anak kita rantingnya. Pohon dan ranting tak bisa dipisahkan, katamu. Aku setuju!</p>
<p>* * *</p>
<p>Kini pohon dan ranting terpisah. Kau, ranting yang memisahkan diri dari pohon. Kau bergoyang dan bergoyang, kini nyaris rontok. Atau memang telah rontok?</p>
<p>Yang rontok dariku tidak hanya satu ranting dirimu, tapi juga dua ranting lainnya kedua anak kita. Pada mulanya ranting-ranting itu ditiup angin, kemudian diterpa badai. Angin dan badai adalah suaramu, yang mengobarkan ambisimu menjadi pesohor. Angin dihembuskan oleh seorang sahabatmu yang mengajakmu mengikuti lomba menyanyi dangdut di sebuah stasiun televisi. Kau keluar sebagai pemenang utama. Sejak itu aku tak mengenalimu. Kau telah menjadi sosok asing: Zombie&#8230;itu julukan untukmu dari kedua anak yang lahir dari rahimmu. ***</p>
<p>Sumber:http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=294673</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rayakultura.net/ranting-bergoyang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sudah Terbit : PENYAIR DAN PEMIKIR (PUISI DAN FILSAFAT) karya terbaru SIDES SUDYARTO DS</title>
		<link>http://www.rayakultura.net/sudah-terbit-penyair-dan-pemikir-puisi-dan-filsafat-karya-terbaru-sides-sudyarto-ds/</link>
		<comments>http://www.rayakultura.net/sudah-terbit-penyair-dan-pemikir-puisi-dan-filsafat-karya-terbaru-sides-sudyarto-ds/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 07:16:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikir]]></category>
		<category><![CDATA[Penyair]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rayakultura.net/?p=1022</guid>
		<description><![CDATA[Buku Penting: PENYAIR DAN PEMIKIR (PUISI DAN FILSAFAT) karya terbaru SIDES SUDYARTO DS. Penerbit: RAYAKULTURA ANDAKAH PENYAIR SEJATI? Melalui tutur kata dan tulisan-tulisan para penyair, mata kita dibuka melihat penderitaan orang lain. Dengan keduanya itu, kepekaan dan solidaritas kita diasah. Kita juga didorong untuk melenyapkan penderitaan atau minimal menguranginya. Seorang penyair ibarat matahari yang tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-1023" href="http://www.rayakultura.net/2011/12/sudah-terbit-penyair-dan-pemikir-puisi-dan-filsafat-karya-terbaru-sides-sudyarto-ds/cpenyairpemikir-w475/"><img class="alignleft size-medium wp-image-1023" title="cpenyairpemikir-w475" src="http://www.rayakultura.net/blog/wp-content/uploads/2011/12/cpenyairpemikir-w475-197x300.jpg" alt="" width="197" height="300" /></a></p>
<p>Buku Penting: PENYAIR DAN PEMIKIR (PUISI DAN FILSAFAT) karya terbaru SIDES SUDYARTO DS. Penerbit: RAYAKULTURA</p>
<p><strong>ANDAKAH PENYAIR SEJATI?</strong></p>
<p>Melalui tutur kata dan tulisan-tulisan para penyair, mata kita dibuka melihat penderitaan orang lain. Dengan keduanya itu, kepekaan dan solidaritas kita diasah. Kita juga didorong untuk melenyapkan penderitaan atau minimal menguranginya.</p>
<p>Seorang penyair ibarat matahari yang tidak hanya menyinari sekeping pulau, tetapi seluruh semesta.</p>
<p>Sayangnya, tidak banyak penyair yang belum atau tidak tahu cara &#8216;menggali&#8217; dan &#8216;mengasah&#8217; kemampuannya dalam berbahasa dan berinteraksi dengan budayanya. Juga, mengabaikan peran filsafat</p>
<p>Dengan demikian, sosok yang mengaku sebagai penyair itu hanyalah merangkai penggalan kata tanpa makna. Ia tak lebih, bak anak kecil bermain dengan mulutnya: meniup-niup buih sabun</p>
<p>Mari kita belajar mengenai kehidupan puisi Indonesia dan mengacu kepada wawasan sastra Indonesia, untuk membentuk diri sebagai <strong>PENYAIR SEJATI</strong>.</p>
<p>Buku <strong>PENYAIR DAN PEMIKIR (PUISI DAN FILSAFAT)</strong> karya Sides Sudyarto DS bisa dijadikan titian referensi bagi siapa saja yang ingin membentuk diri sebagai penyair sejati &#8211; penyair yang menebarkan pencerahan.</p>
<p><em><strong>Edisi terbatas.</strong></em></p>
<p>Bagi yang berminat, silakan pesan melalui: rayakultura@gmail.com</p>
<p><em>Harga buku Rp 50.000,- untuk Jabodetabek; Rp 55.000,- untuk luar Jabodetabek dan P. Sumatera; Rp 65.000,- untuk pemesan yang tinggal di P. Madura, Bali dan Kalimantan.</em></p>
<p>Harga tersebut termasuk ongkos kirim dan bonus buku MANUSIA DAN BAHASA karya Sides Sudyarto DS</p>
<p>Terima kasih</p>
<p><strong>Penerbit RAYAKULTURA</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rayakultura.net/sudah-terbit-penyair-dan-pemikir-puisi-dan-filsafat-karya-terbaru-sides-sudyarto-ds/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Telah Terbit:SEKUNTUM RUH DALAM MERAH</title>
		<link>http://www.rayakultura.net/telah-terbitsekuntum-ruh-dalam-merah/</link>
		<comments>http://www.rayakultura.net/telah-terbitsekuntum-ruh-dalam-merah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 13:07:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rayakultura.net/?p=1018</guid>
		<description><![CDATA[Bonus 17 LANGKAH MUDAH MENULIS NOVEL Tebal 434 halaman Dapat dibeli di Toko GRAMEDIA di seluruh Indonesia harga Rp 52.000,- Pesan via rayakultura@gmail.com   Rp 65.000,- (P. Jawa-Sumatera)  dan Rp 75.000,- (P. Madura, Bali-Lombok, Sulawesi dan Kalimantan)  termasuk ongkos kirim dan Bonus Antologi LMCR-2011 Atau hubungi DIVA PRESS redaksi_divapress@yahoo.com]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bonus<br />
17 LANGKAH MUDAH MENULIS NOVEL<br />
Tebal 434 halaman</p>
<p><a rel="attachment wp-att-892" href="http://www.rayakultura.net/2011/10/segera-terbit-sekuntum-ruh-dalam-merah-karya-naning-pranoto/aakuntum-web/"><img class="size-medium wp-image-892 alignleft" title="AAkuntum-web" src="http://www.rayakultura.net/blog/wp-content/uploads/2011/10/AAkuntum-web-209x300.jpg" alt="" width="209" height="300" /></a>Dapat dibeli di Toko GRAMEDIA di seluruh Indonesia<br />
harga Rp 52.000,-<br />
Pesan via rayakultura@gmail.com   Rp 65.000,- (P. Jawa-Sumatera)  dan Rp 75.000,- (P. Madura, Bali-Lombok, Sulawesi dan Kalimantan)  termasuk ongkos kirim dan Bonus Antologi LMCR-2011<br />
Atau hubungi DIVA PRESS<br />
redaksi_divapress@yahoo.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rayakultura.net/telah-terbitsekuntum-ruh-dalam-merah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tahap V: Daftar Peserta LMCR 2011</title>
		<link>http://www.rayakultura.net/tahap-v-daftar-peserta-lmcr-2011/</link>
		<comments>http://www.rayakultura.net/tahap-v-daftar-peserta-lmcr-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Nov 2011 18:05:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi</dc:creator>
				<category><![CDATA[LMCR]]></category>
		<category><![CDATA[LMCR 2011]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rayakultura.net/?p=1015</guid>
		<description><![CDATA[Silahkan akses data peserta LMCR 2011 Tahap V]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Silahkan akses <a href="http://www.rayakultura.net/?dl_id=10" target="_blank">data peserta LMCR 2011 Tahap V</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rayakultura.net/tahap-v-daftar-peserta-lmcr-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

